SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah guna memenuhi salah satu tugas pada mata
kuliah Pendidikan Agama Islam

DISUSUN OLEH:
FALDI FERDIANSYAH 4815131277
FEBRIANA SAPUTRI 4815131282
WINDY KUSWINDA 4815131276
KELOMPOK 8
PENDIDIKAN SOSIOLOGI KELAS A
2013
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat
Allah S.W.T. yang
telah menolong hambaNya menyelesaikan makalah
ini dengan penuh
kemudahan. Tanpa pertolongan
Allah S.W.T . makalah ini mustahil
akan dapat terselesaikan. Alhamdulillah kami dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “SISTEM PENDIDIKAN ISLAM”.
Makalah ini di
susun agar pembaca
dapat memperluas ilmu
mengenai materi tersebut yang
kami saji berdasarkan
kutipan dari berbagai
sumber.
Kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada
dosen pengajar yang
telah mempercayai kami
untuk menyelesaikan bab ini, kemudian
kepada rekan-rekan yang memberikan masukannya kepada kami
sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.
Kami
mengakui bahwa makalah
ini masih jauh dari
sempurna, dan perlu ada
kritik maupun saran dari
teman-teman dan dosen
mata kuliah Pendidikan
Agama Islam. Namun kami berharap
makalah ini dapat bermanfaat. Semoga Allah S.W.T.
senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita
semua. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Wassalamuaikum
wr. wb.
Jakarta,
September 2013
Anggota Kelompok
8
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………………….1
Daftar
Isi……………………………………………………………………………….….2
1. Aspek-aspek Pendidikan Islam…………………………………………………………3
A. Pengertian Pendidikan
Islam………………………………………………………...3
B. Tujuan Pendidikan
Islam……………………………………………………….……4
C. Kurikulum Pendidikan
Islam……………………………………………………..….5
D. PBM Pendidikan
Islam………………………………………………………….......6
2. Lembaga Pendidikan Islam…………………………………………………………......7
3. Problematika Pendidikan Islam di Indonesia…………………………………………...8
Penutup……………………………………………………………………………………10
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….11
1. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN ISLAM
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN
ISLAM
Secara etimologi,
pendidikan berasal dari kata “didik” yang artinya memberi ajaran (ajaran,
tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan bisa diartikan sebagai proses
pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah usaha sadar
untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran.
Sedangkan menurut
istilah (terminologi) dalam Esiklopedi Indonesia, bahwa pendidikan adalah
proses membimbing manusia dari kebodohan menuju ke kecerahan pengetahuan yang
dilakukan dengan berbagai cara seperti dresure atau paksaan, latihan
untuk membentuk kebiasaan, dan pendidikan untuk membentuk kata hati.
Pendidikan islam adalah pendidikan yang melatih kepekaan para
peserta didik sehingga sikap hidup, perilaku, juga keputusan dan pendekatannya
kepada semua jenis pengetahuan dikuasai secara mendalam berdasarkan nilai nilai
spiritual islam, sehingga mereka mencari pengetahuan tidak hanya untuk
keingintahuan duniawi belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai
makhluk rasional dan saleh yang kelak dapat memberikan kesejahteraan bagi umat
manusia. Sasaran yang hendak dicapai ialah terbentuknya akhlak mulia, baik
dalam hubungan sesama manusia dan alam lingungan (hablun minannas) maupun
hubungan dengan Allah Pencipta Alam Semesta (hablun minallah), serta
mempunyai ilmu yang tinggi dan taat ibadah sebagaimana yang sudah tercantum
dalam al-Qur’an dan al-Hadits.
Di kalangan tokoh
pendidikan Islam ada tiga istilah yang
umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu : al-Tarbiyah
(pengetahuan tentang Al-Rabb), al-ta’lim (ilmu teoritik, kreativitas,
serta sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah), al-Ta’dib (integrasi
ilmu dan iman yang membuahkan amal)
1. Tarbiyah: Kata tarbiyah
berasal dari kata dasar “rabba” , “yurabbi” menjadi “tarbiyah” yang mengandung
arti memelihara, membesarkan dan mendidik. Dengan demikian manusia sebagai
bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama alam
lingkungannya. Tetapi sebagai khalifah Allah maka manusia mempunyai tugas untuk
mengolah, memelihara, dan melestarikan alam dan lingkungan alam.
2. Al-Ta’lim: Secara
etimologi, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu
pengetahuan. Hakikat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah S.W.T. Adapun proses
pembelajaran (ta’lim) secara simbolis dinyatakan dalam Al-Qur’an ketika penciptaan
nabi Adam A.S oleh Allah S.W.T, ia menerima pemahaman tentang konsep ilmu
pengetahuan langsung dari penciptanya.
3. Al-Ta’dib: Al-Ta’dib
berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur yang ditanamkan
kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari
segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan
akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan
yang tepat dalam tatanan wujud dan keberadaannya.
B. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan
pendidikan islam bukan sekedar masalah masalah dunia semata, akan tetapi menyangkut
perpaduan rohani dan jasmani. Pendidikan islam mempersiapkan seseorang
berperilaku ihsan (tepat guna) dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Bukan merupakan orang yang terbaik diantaramu,
siapa yang meninggalkan dunia untuk keperluan akhiratnya dan bukan pula
meninggalkan akhirat untuk keduniawiannya. Tetapi orang yang baik diantaramu
ialah siapa yang mengambil dunia dan akhirat”.
Tujuan pendidikan islam disini ialah agar manusia mengetahui
pengetahuan untuk menjadikan masyarakat muslim yang sempurna dan berbudi baik
serta memiliki akhlak dan kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga dapat
beribadah dan bersujud serta mendekatkan diri kepadaNya yang tujuan akhirnya
ialah untuk mendapatkan ridaNya. (QS. Al-Alaq:1-5) dan tujuan akhir pendidikan
islam pada hakikatnya ialah realisasi dari cita cita ajaran islam itu sendiri,
yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir batin,
dunia dan akhirat.
C. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Kurikulum adalah semua rencana yang terdapat dalam proses
pembelajaran. Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua
pengalaman belajar yang disediakan untuk para peserta didik. Rancangan ini
disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan.
Kurikulum pendidikan islam adalah semua aktivitas, pengetahuan dan
pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada
anak didik dalam rangka tujuan pendidikan berdasarkaan hukum islam. Sifat
kurikulum hendaknya dinamis dan tidak statis, selalu dapat diperbaiki menurut kemajuan
ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan materi
kurikulum dalam rangka intra-kulikuler hendaknya meliputi seluruh pokok pokok
agama islam yaitu hubungan manusia dengan Khaliq (hablun minallah),
hubungan manusia dengan manusia (hablun minannas) yang dilengkapi dengan
dalil-dalil aqli dan naqli, hikmah dan manfaatnya.
Kurikulum pendidikan islam meliputi 3 hal, yaitu:
a. Masalah Keimanan (Aqidah)
Bagaimana aqidah menyentuh hal hal yang bersifat iktikad
(kepercayaan). Termasuk mengenai iman manusia dengan Allah, Malaikat,
Kitab-kitab, Rasul-rasul,Hari Kiamat, dan Qada dan Qadar Allah S.W.T. Masalah
keimanan menjadi prioritas utama dalam penyusunan kurikulum karena pokok ajaran
inilah yang pertama perlu ditanamkan pada anak didik.
b. Masalah Keislaman (Syariah)
Bagaimana syariah meliputi segala hal yang berkatan dengan amal
perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan peraturan
hukum Allah dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antar sesama
manusia.
c. Masalah Ihsan (Akhlak)
Bagaimana akhlak merupakan suatu amalan yang bersifat melengkapkan
kedua perkara diatas (keimanan dan keislaman) dan mengajar serta mendidik
manusia mengenai cara pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat.
D. PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan merupakan sarana atau proses
interaksi seorang pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan tujuan
pendidikan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satunya hilang, maka
hakekat dari suatu pendidikan akan hilang.
Dalam PBM, ada berbagai ciri terjadinya interaksi pendidikan islam,
yaitu:
1. Tujuan pendidikan islam yang akan dicapai telah dirumuskan
secara jelas
2. Bahan ajar pendidikan islam yang akan menjadi isi interaksi
telah dipilih dan ditetapkan
3. Pendidik dan peserta didik aktif dalam melakukan interaksi
4. Pelajaran dan bahan ajar berinteraksi secara aktif
5. Kesesuaian metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan islam
6. Situasi yang memungkinkan terciptanya proses interaksi dapat
berlangsung dengan baik
7. Penilaian terhadap hasil interaksi PBM pendidikan islam
2. LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
Lembaga pendidikan islam ialah suatu
bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga islam yang
baik, yang permanen, maupun yang berubah- ubah dan mempunyai pola-pola tertentu
dalam memerankan fungsinya serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat
mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai
kekuatan hukum tersendiri. Jenis lembaga pendidikan islam yaitu:
1.
Rumah tangga/Keluarga,
merupakan suatu struktur bersifat khusus (primer), satu sama lain dalam
keluarga mempunyai ikatan melalui hubungan darah atau pernikahan.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama kali menerima
pendidkan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga yang lain.
Keluargalah yang meletakan dasar dasar kepribadian anak, karna pada masa ini
anak jadi lebih peka terhadap pengaruh orang tuanya. Rumah sebagai lembaga
pendidikan agama dalam islam sudah di isyaratkan oleh Al-Qur’an yang terkandung
dalam QS. ASy- Syura (26);214: “ berilah peringatan kepada kerabatmu yang
terdekat”.
2.
Sekolah/madrasah,
adalah lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga (sekunder).
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan, pendidikan,
dan pengajaran dengan sengaja, teratur, dan terencana. Pendidikan yang
berlangsung disekolah bersifat sistematis, berjenjang, dan dibagi dalam
waktu-waktu tertentu.
3.
Kesatuan
sosial/masyarakat, merupakan pendidikan yang terakhir tetapi bersifat permanen.
Pendidikannya adalah kebudayaan, adat istiadat, dan suasana masyarakat
setempat. Corak pendidikan yang diterima peserta didik dalam masyarakat ini
banyak sekali, yaitu meliputi segala bidang, baik pembentuk kebiasaan,
pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentuk kesusilaan dan keagamaan
seperti: kepanduan pramuka, perkumpulan olahraga, perkumpulan perekonomian
(koperasi), perkumpulan keagamaan.
Aktifitas tersebut banyak mempengaruhi perkembangan keperibadian
anggotanya, apabila didalamnya hidup suasana yang islami maka ke peribadiannya
cenderung berwarna islami pula
3. PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
ISLAM DI INDONESIA
Pendidikan Islam dihadapkan dan
terperangkap dalam kemunduran, keterbelakangan, ketidak berdayaan, dan
kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan
masyarakat Islam. Katakan saja, pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang
tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas, relevansi dengan
kebutuhan, perubahan zaman, dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel
Islam”, dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang
secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah
menunjukkan kemajuan, tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada
posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di
Indonesia. Pendidikan Islam menjadi satu dalam sistem pendidikan nasional,
tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya.
Masalah
pendidikan Islam timbul karena dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal:
1. Faktor
Internal
a.
Kualitas SDM yang rendah
SDM di sini lebih terfokus pada
kualitas guru yang rendah. Contohnya, banyak guru yang tidak ber-background dari
lulusan sarjana pendidikan agama Islam (S1/akta 4 mengajar), guru yang mengajar
bukan pada spesialisasinya, contohnya, sarjana hukum Islam mengajar bahasa
Arab, dan lain sebagainya.
b. Manajemen pendidikan Islam
Manajemen
pendidikan Islam pada umumnya belum mampu menyelenggarakan pembelajaran dan
pengelolaan pendidikan yang efektif dan berkualitas.
c. Faktor kepemimpinan
Tidak
sedikit kepala-kepala madrasah yang tidak memiliki visi, dan misi untuk mau ke
mana pendidikan akan dibawa dan dikembangkan.
2. Faktor Eksternal
a.
Adanya perlakuan diskriminatif pemerintah terhadap pendidikan Islam
Seperti
alokasi dana yang diberikan pemerintah sangat jauh perbedaannya dengan pendidikan
yang berada di lingkungan Diknas.
b.
adanya diskriminasi masyarakat terhadap pendidikan Islam
Secara
jujur harus diakui, bahwa masyarakat selama ini cenderung acuh terhadap proses
pendidikan di madrasah atau sekolah-sekolah Islam. Rata-rata memandang
pendidikan Islam adalah pendidikan alternatif saja.
c. Globalisasi, Demokratisasi, dan
Liberalisasi Islam
Pendidikan Islam mempunyai tantangan
berat untuk menghadapi era globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi Islam.
Lembaga pendidikan agama harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di
atas. Misalnya dengan memperbaiki kualitas SDM dan SDA. SDM menyangkut kualitas
guru maupun input peserta didik, sedangkan SDA menyangkut infrastruktur atau
sarana prasarana, media pendidikan maupun kurikulum yang up to date.
PENUTUP
Kesimpulan,
Saran dan Solusi
Pendidikan
islam mempunyai peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia dan kepribadian muslim.
Pendidikan
agama islam pengaruhnya dalam perubahan tingkah laku remaja adalah relatif
lebih baik dibanding dengan kondisi sebelum pendidikan agama islam tersebut
diwajibkan. Sekurang-kurangnya pengaruh pendidikan agama tersebut secara
minimal dapat menanamkan benih keimanan yang dapat menjadi daya preventif
terhadap perbuatan negatif remaja atau bahkan mendorong mereka untuk bertingkah
laku susila dan sesuai dengan norma agamanya.
Meskipun
pendidikan islam mempunyai peranan penting dalam membentuk peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berperilaku/akhlak mulia,
akan tetapi dalam realitas, lembaga pendidikan agama islam masih dipandang
sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Oleh karena itu, perbaikan dan
peningkatan kualitas sangat urgen di lakukan oleh lembaga pendidikan agama
untuk saat ini.
Kami menyimpulkan bahwa Pendidikan Islam saat ini sudah berada
pada titik terakhir kebangkitan. Seandainya kita sebagai umat Islam yang
kebetulan diberikan Allah amanah untuk menjadi seorang guru, kita wajib
membangkitkan kembali Pendidikan Islam yang dahulu kala pernah jaya, karena
jikalau kita hanya berdiam diri mungkin Pendidikan Islam ini akan mati suri dan
kemungkinan besar akan mati betulan. Tentang solusi yang akan kita lakukan
untuk memperbaiki umat Islam dan Pendidikan Islam ini adalah meng-Islam-kan
umat Islam, karena perubahan besar dimulai dari diri sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Husnan,Djaelan
dkk,Islam Universal,Jakarta:Media Pustaka.2012
Quthb,
Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, alih bahasa Salman Harun, (Bandung:
Al-Ma’arif, 1984), cetakan 1
Umar,Bukhari.Ilmu
Pendidikan Islam.Bandung:Sinar Grafika Offset.2010
Muzayyin,Arifin.Kapita
Selekta Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara.2011
Rachmat,Noor
dkk,Pendidikan Afektif Agama Islam,Jakarta:MKDU-FPIPS.1986
Sanaky,
Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Safiria
Insania Press)
http://wanty-visiislami.blogspot.com/
No comments:
Post a Comment