Tuesday, December 24, 2013

sistem pendidikan islam

SISTEM  PENDIDIKAN  ISLAM
Makalah guna memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam









DISUSUN  OLEH:
FALDI  FERDIANSYAH                      4815131277
FEBRIANA  SAPUTRI                         4815131282
WINDY  KUSWINDA                          4815131276

KELOMPOK  8
     PENDIDIKAN  SOSIOLOGI  KELAS  A 2013
FAKULTAS  ILMU  SOSIAL
UNIVERSITAS  NEGERI  JAKARTA







KATA  PENGANTAR

Segala  puji  syukur  kehadirat  Allah  S.W.T.  yang  telah  menolong  hambaNya menyelesaikan  makalah  ini  dengan  penuh  kemudahan. Tanpa  pertolongan Allah S.W.T . makalah  ini  mustahil  akan  dapat  terselesaikan. Alhamdulillah  kami dapat  menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “SISTEM PENDIDIKAN ISLAM”.
Makalah  ini  di  susun  agar  pembaca  dapat  memperluas  ilmu  mengenai  materi tersebut  yang  kami  saji  berdasarkan  kutipan  dari  berbagai  sumber.
Kami  mengucapkan  banyak  terima  kasih  kepada  dosen  pengajar  yang  telah  mempercayai  kami  untuk  menyelesaikan  bab  ini,  kemudian  kepada  rekan-rekan  yang memberikan  masukannya  kepada  kami  sehingga  makalah  ini  dapat  terselesaikan.
Kami  mengakui  bahwa   makalah  ini  masih  jauh  dari  sempurna, dan  perlu  ada kritik  maupun  saran  dari  teman-teman  dan  dosen  mata  kuliah  Pendidikan  Agama  Islam. Namun  kami  berharap  makalah  ini  dapat  bermanfaat. Semoga  Allah  S.W.T. senantiasa  memberikan  rahmat-Nya  kepada  kita  semua. Aamiin  Yaa  Rabbal ‘Aalamiin.

Wassalamuaikum wr. wb.
      Jakarta,  September  2013


       Anggota  Kelompok  8



DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………….1
Daftar Isi……………………………………………………………………………….….2
1. Aspek-aspek Pendidikan Islam…………………………………………………………3
    A. Pengertian Pendidikan Islam………………………………………………………...3
    B. Tujuan Pendidikan Islam……………………………………………………….……4
    C. Kurikulum Pendidikan Islam……………………………………………………..….5
    D. PBM Pendidikan Islam………………………………………………………….......6
2. Lembaga Pendidikan Islam…………………………………………………………......7
3. Problematika Pendidikan Islam di Indonesia…………………………………………...8
Penutup……………………………………………………………………………………10
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….11






1. ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN ISLAM
A.  PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
            Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata “didik” yang artinya memberi ajaran (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.  Pendidikan bisa diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM)  melalui kegiatan pengajaran.
      Sedangkan menurut istilah (terminologi) dalam Esiklopedi Indonesia, bahwa pendidikan adalah proses membimbing manusia dari kebodohan menuju ke kecerahan pengetahuan yang dilakukan dengan berbagai cara seperti dresure atau paksaan, latihan untuk membentuk kebiasaan, dan pendidikan untuk membentuk kata hati.
Pendidikan islam adalah pendidikan yang melatih kepekaan para peserta didik sehingga sikap hidup, perilaku, juga keputusan dan pendekatannya kepada semua jenis pengetahuan dikuasai secara mendalam berdasarkan nilai nilai spiritual islam, sehingga mereka mencari pengetahuan tidak hanya untuk keingintahuan duniawi belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak dapat memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Sasaran yang hendak dicapai ialah terbentuknya akhlak mulia, baik dalam hubungan sesama manusia dan alam lingungan (hablun minannas) maupun hubungan dengan Allah Pencipta Alam Semesta (hablun minallah), serta mempunyai ilmu yang tinggi dan taat ibadah sebagaimana yang sudah tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits.
     Di kalangan tokoh pendidikan Islam ada tiga istilah yang  umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu : al-Tarbiyah (pengetahuan tentang Al-Rabb), al-ta’lim (ilmu teoritik, kreativitas, serta sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah), al-Ta’dib (integrasi ilmu dan iman yang membuahkan amal)
1. Tarbiyah: Kata tarbiyah berasal dari kata dasar “rabba” , “yurabbi” menjadi “tarbiyah” yang mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik. Dengan demikian manusia sebagai bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama alam lingkungannya. Tetapi sebagai khalifah Allah maka manusia mempunyai tugas untuk mengolah, memelihara, dan melestarikan alam dan lingkungan alam.
2. Al-Ta’lim: Secara etimologi, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Hakikat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah S.W.T. Adapun proses pembelajaran (ta’lim) secara simbolis dinyatakan dalam Al-Qur’an ketika penciptaan nabi Adam A.S oleh Allah S.W.T, ia menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari penciptanya.
3. Al-Ta’dib: Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur yang ditanamkan kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan keberadaannya.

B. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan islam bukan sekedar masalah masalah dunia semata, akan tetapi menyangkut perpaduan rohani dan jasmani. Pendidikan islam mempersiapkan seseorang berperilaku ihsan (tepat guna) dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Bukan merupakan orang yang terbaik diantaramu, siapa yang meninggalkan dunia untuk keperluan akhiratnya dan bukan pula meninggalkan akhirat untuk keduniawiannya. Tetapi orang yang baik diantaramu ialah siapa yang mengambil dunia dan akhirat”.
Tujuan pendidikan islam disini ialah agar manusia mengetahui pengetahuan untuk menjadikan masyarakat muslim yang sempurna dan berbudi baik serta memiliki akhlak dan kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga dapat beribadah dan bersujud serta mendekatkan diri kepadaNya yang tujuan akhirnya ialah untuk mendapatkan ridaNya. (QS. Al-Alaq:1-5) dan tujuan akhir pendidikan islam pada hakikatnya ialah realisasi dari cita cita ajaran islam itu sendiri, yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir batin, dunia dan akhirat.

C. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Kurikulum adalah semua rencana yang terdapat dalam proses pembelajaran. Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan untuk para peserta didik. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan.
Kurikulum pendidikan islam adalah semua aktivitas, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan berdasarkaan hukum islam. Sifat kurikulum hendaknya dinamis dan tidak statis, selalu dapat diperbaiki menurut kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan materi kurikulum dalam rangka intra-kulikuler hendaknya meliputi seluruh pokok pokok agama islam yaitu hubungan manusia dengan Khaliq (hablun minallah), hubungan manusia dengan manusia (hablun minannas) yang dilengkapi dengan dalil-dalil aqli dan naqli, hikmah dan manfaatnya.
Kurikulum pendidikan islam meliputi 3 hal, yaitu:
a. Masalah Keimanan (Aqidah)
Bagaimana aqidah menyentuh hal hal yang bersifat iktikad (kepercayaan). Termasuk mengenai iman manusia dengan Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul,Hari Kiamat, dan Qada dan Qadar Allah S.W.T. Masalah keimanan menjadi prioritas utama dalam penyusunan kurikulum karena pokok ajaran inilah yang pertama perlu ditanamkan pada anak didik.



b. Masalah Keislaman (Syariah)
Bagaimana syariah meliputi segala hal yang berkatan dengan amal perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan peraturan hukum Allah dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antar sesama manusia.
c. Masalah Ihsan (Akhlak)
Bagaimana akhlak merupakan suatu amalan yang bersifat melengkapkan kedua perkara diatas (keimanan dan keislaman) dan mengajar serta mendidik manusia mengenai cara pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat.

D. PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) PENDIDIKAN ISLAM
           Pendidikan merupakan sarana atau proses interaksi seorang pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satunya hilang, maka hakekat dari suatu pendidikan akan hilang.
Dalam PBM, ada berbagai ciri terjadinya interaksi pendidikan islam, yaitu:
1. Tujuan pendidikan islam yang akan dicapai telah dirumuskan secara jelas
2. Bahan ajar pendidikan islam yang akan menjadi isi interaksi telah dipilih dan ditetapkan
3. Pendidik dan peserta didik aktif dalam melakukan interaksi
4. Pelajaran dan bahan ajar berinteraksi secara aktif
5. Kesesuaian metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan islam
6. Situasi yang memungkinkan terciptanya proses interaksi dapat berlangsung dengan baik
7. Penilaian terhadap hasil interaksi PBM pendidikan islam
     2.  LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
            Lembaga pendidikan islam ialah suatu bentuk organisasi yang diadakan untuk mengembangkan lembaga-lembaga islam yang baik, yang permanen, maupun yang berubah- ubah dan mempunyai pola-pola tertentu dalam memerankan fungsinya serta mempunyai struktur tersendiri yang dapat mengikat individu yang berada dalam naungannya, sehingga lembaga ini mempunyai kekuatan hukum tersendiri. Jenis lembaga pendidikan islam yaitu:
1.                  Rumah tangga/Keluarga, merupakan suatu struktur bersifat khusus (primer), satu sama lain dalam keluarga mempunyai ikatan melalui hubungan darah atau pernikahan.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama kali menerima pendidkan dan bimbingan dari orang tuanya atau anggota keluarga yang lain. Keluargalah yang meletakan dasar dasar kepribadian anak, karna pada masa ini anak jadi lebih peka terhadap pengaruh orang tuanya. Rumah sebagai lembaga pendidikan agama dalam islam sudah di isyaratkan oleh Al-Qur’an yang terkandung dalam QS. ASy- Syura (26);214: “ berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat”.
2.                  Sekolah/madrasah, adalah lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga (sekunder). Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang melaksanakan pembinaan, pendidikan, dan pengajaran dengan sengaja, teratur, dan terencana. Pendidikan yang berlangsung disekolah bersifat sistematis, berjenjang, dan dibagi dalam waktu-waktu tertentu.
3.                  Kesatuan sosial/masyarakat, merupakan pendidikan yang terakhir tetapi bersifat permanen. Pendidikannya adalah kebudayaan, adat istiadat, dan suasana masyarakat setempat. Corak pendidikan yang diterima peserta didik dalam masyarakat ini banyak sekali, yaitu meliputi segala bidang, baik pembentuk kebiasaan, pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentuk kesusilaan dan keagamaan seperti: kepanduan pramuka, perkumpulan olahraga, perkumpulan perekonomian (koperasi),  perkumpulan keagamaan.
Aktifitas tersebut banyak mempengaruhi perkembangan keperibadian anggotanya, apabila didalamnya hidup suasana yang islami maka ke peribadiannya cenderung berwarna islami pula
3.  PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Pendidikan Islam dihadapkan dan terperangkap dalam kemunduran, keterbelakangan, ketidak berdayaan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam. Katakan saja, pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas, relevansi dengan kebutuhan, perubahan zaman, dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”, dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan, tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Pendidikan Islam menjadi satu dalam sistem pendidikan nasional, tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya.
Masalah pendidikan Islam timbul karena dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal:
1. Faktor Internal
a. Kualitas SDM yang rendah
SDM di sini lebih terfokus pada kualitas guru yang rendah. Contohnya, banyak guru yang tidak ber-background  dari lulusan sarjana pendidikan agama Islam (S1/akta 4 mengajar), guru yang mengajar bukan pada spesialisasinya, contohnya, sarjana hukum Islam mengajar bahasa Arab, dan lain sebagainya.
b. Manajemen pendidikan Islam
Manajemen pendidikan Islam pada umumnya belum mampu menyelenggarakan pembelajaran dan pengelolaan pendidikan yang efektif dan berkualitas.
c. Faktor kepemimpinan
Tidak sedikit kepala-kepala madrasah yang tidak memiliki visi, dan misi untuk mau ke mana pendidikan akan dibawa dan dikembangkan.

2. Faktor Eksternal
a. Adanya perlakuan diskriminatif pemerintah terhadap pendidikan Islam
Seperti alokasi dana yang diberikan pemerintah sangat jauh perbedaannya dengan pendidikan yang berada di lingkungan Diknas.
b. adanya diskriminasi masyarakat terhadap pendidikan Islam
Secara jujur harus diakui, bahwa masyarakat selama ini cenderung acuh terhadap proses pendidikan di madrasah atau sekolah-sekolah Islam. Rata-rata memandang pendidikan Islam adalah pendidikan alternatif saja.
c. Globalisasi, Demokratisasi, dan Liberalisasi Islam
Pendidikan Islam mempunyai tantangan berat untuk menghadapi era globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi Islam. Lembaga pendidikan agama harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di atas. Misalnya dengan memperbaiki kualitas SDM dan SDA. SDM menyangkut kualitas guru maupun input peserta didik, sedangkan SDA menyangkut infrastruktur atau sarana prasarana, media pendidikan maupun kurikulum yang up to date.










PENUTUP

Kesimpulan, Saran dan Solusi
Pendidikan islam mempunyai peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia dan kepribadian muslim.
Pendidikan agama islam pengaruhnya dalam perubahan tingkah laku remaja adalah relatif lebih baik dibanding dengan kondisi sebelum pendidikan agama islam tersebut diwajibkan. Sekurang-kurangnya pengaruh pendidikan agama tersebut secara minimal dapat menanamkan benih keimanan yang dapat menjadi daya preventif terhadap perbuatan negatif remaja atau bahkan mendorong mereka untuk bertingkah laku susila dan sesuai dengan norma agamanya.
Meskipun pendidikan islam mempunyai peranan penting dalam membentuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berperilaku/akhlak mulia, akan tetapi dalam realitas, lembaga pendidikan agama islam masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.  Oleh karena itu, perbaikan dan peningkatan kualitas sangat urgen di lakukan oleh lembaga pendidikan agama untuk saat ini.
Kami menyimpulkan bahwa Pendidikan Islam saat ini sudah berada pada titik terakhir kebangkitan. Seandainya kita sebagai umat Islam yang kebetulan diberikan Allah amanah untuk menjadi seorang guru, kita wajib membangkitkan kembali Pendidikan Islam yang dahulu kala pernah jaya, karena jikalau kita hanya berdiam diri mungkin Pendidikan Islam ini akan mati suri dan kemungkinan besar akan mati betulan. Tentang solusi yang akan kita lakukan untuk memperbaiki umat Islam dan Pendidikan Islam ini adalah meng-Islam-kan umat Islam, karena perubahan besar dimulai dari diri sendiri.





DAFTAR PUSTAKA

Husnan,Djaelan dkk,Islam Universal,Jakarta:Media Pustaka.2012
Quthb, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, alih bahasa Salman Harun, (Bandung: Al-Ma’arif, 1984), cetakan 1
Umar,Bukhari.Ilmu Pendidikan Islam.Bandung:Sinar Grafika Offset.2010
Muzayyin,Arifin.Kapita Selekta Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara.2011
Rachmat,Noor dkk,Pendidikan Afektif Agama Islam,Jakarta:MKDU-FPIPS.1986
Sanaky, Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Press)

http://wanty-visiislami.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment